January 16, 2021 | Pesantren

Pesantren, Model Pendidikan Ori Nusantara

Oleh M Salman Azhar · Diperbarui 15 Jul 2026
Pesantren, Model Pendidikan Ori Nusantara

Mungkin pertanyaan yang sering muncul di benak para orang tua Muslim di zaman sekarang kira-kira: apakah pondok pesantren masih relevan di zaman now? Pertanyaan itu wajar apalagi dengan maraknya kasus yang diblow up media akhir-akhir ini. Tapi saya ingin balik bertanya – jangan-jangan yang perlu kita tanyakan bukan relevan atau tidak relevan, melainkan: mengapa model pendidikan sepenting pesantren justru dianggap ’pilihan kedua’ di negara mayoritas muslim ini?

Saya tidak akan asal klaim. Saya akan ajak anda melihat secara historis bahwa: pesantren, jauh sebelum negara ini merdeka dan sebelum ada macam-macam kurikulum yang diusung rezim-rezim pemerintah, sudah menjawab pertanyaan yang sampai hari ini masih diperdebatkan pejabat di meja sidang mereka – bagaimana mendidik manusia secara utuh?


Pendidikan Modern dan Masalah yang Belum Selesai

Pendidikan formal kita hari ini, jujur-jujuran, sangat bagus dalam satu hal: mengembangkan kemampuan kognitif. Walaupun banyak kita dapati di media sosial ada anak SMP/SMA yang hitung-hitungan perkalian dasar saja masih belum bisa. Hehe, santai itu hanya oknum (katanya).

Kembali ke topik, berikut ini beberapa ranah/domain yang dari pengakuan jujur para pemerhati pendidikan dalam sistem itu sendiri merasa implementasinya sering setengah hati. Pertama ranah sikap dan perasaan (affective domain), lalu ranah keterampilan fisik dan praktik (psychomotor domain), hingga yang paling sulit diukur – ranah perkembangan dimensi ruhani seseorang (spiritual development).

Orang pendidikan pasti mengakui bahwa domain-domain diatas penting. Tapi tetap saja implementasinya digarap setengah hati. Karena di sekolah formal sulit sekali mengajarkan hal-hal tersebut. Kalau mengajarkan saja susah, maka tidak ada cara mudah untuk memasukkannya ke dalam lembar ujian.

Pesantren: Sistem yang Sudah Menjawab Ini Sejak Awal

Jauh sebelum ada kurikulum nasional, jauh sebelum ada gagasan pendidikan holistik ala barat, pesantren sudah memiliki ekosistem pendidikan yang secara alami – bukan kebetulan, ya! – mencakup semua dimensi manusia.

Bukan karena kebetulan lengkap, tapi memang lengkap betulan. Pesantren sudah punya positioning yang berbeda sejak awal.

Kalau pendidikan modern bertanya: bagaimana cara kita mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada murid?

Pesantren bertanya: bagaimana cara kita membentuk manusia yang mengenal Allah, mengenal dirinya sendiri, dan tahu tujuan serta bagaimana dia harus hidup?

Tiga dimensi yang Digarap Beriringan:

1.     Akal – Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Pemahaman yang Hidup

Santri belajar ilmu agama dengan metode ngaji matan, syarah dan hasyiyah – artinya, setiap teks tidak dibaca sendirian, melainkan dibaca bersama penjelasan para ulama lintas generasi. Dari gurunya nyambung ke para guru-guru dari gurunya. Ini bukan sekedar menghafal. Ini latihan berpikir sistematis dalam tradisi intelektual yang panjang. Memahami mengapa kok sebuah pendapat diambil, apa dalilnya, di mana batasan-batasannya, dan bahkan, bagaimana ulama lain berbeda pendapat dengan cara berpikir yang sama-sama sistematis juga!

Lha di pondok saya dulu, ilmu logika itu sudah dipelajari sejak ’aliyah. Bahkan mungkin di beberapa pondok salaf sudah diajarkan sejak tsanawiyah. Jadi kalau ada yang mengkritisi kurikulum pondok cuma ada hafalan doang, berarti ’ngopimu kurang kenthel, dolanmu kurang adoh’.

2.     Akhlak dan Jiwa – Dua Hal yang Tidak Bisa Ditiru Institusi Formal

Kenapa tidak bisa ditiru? Karena ini paling khas dari pesantren.

Di pondok pesantren, pembentukan akhlak bukan sekedar mata pelajaran. Ia adalah miliu, iklim – yang setiap hari dihirup santri. Santri hidup dalam dalam pondok dengan tujuan ibadah lillah tholabul ’ilmi (keikhlasan). Hidup sesuai dengan kebutuhan – tidak mengada-adakan sesuatu yang tidak ada (kesederhanaan). Self-service, mengurusi dirinya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Bahkan di dalam pondok pesantren dia sudah melayani kebutuhan orang lain, belajar berkorban untuk umat tanpa pamrih (ukhuwwah islamiyyah). Dan sebenarnya orang-orang yang dibiasakan hidup seperti ini adalah orang yang (bebas/merdeka), karena kebebasan yang hakiki ketika seseorang hanya menjadi hamba Allah SWT.

Inilah konsep-konsep dasar yang menjiwai pondok pesantren. Dalam tradisi Islam disebut tazkiyatun nafs – penyucian jiwa secara bertahap. Prosesnya panjang, tidak bisa diukur dengan nilai rapor, tapi hasilnya real terasa nyata dalam kepribadian santri.

3.     Kemandirian dan Keterampilan Hidup – Praktis Sejak Hari Pertama

Anak yang masuk pesantren, dalam hitungan minggu, sudah belajar manajemen pakaian sendiri, menata lemari sendiri, mengatur waktu sendiri, mengelola kebutuhan sendiri. Bukan karena dipaksa kurikulum pondok, tapi karena terpaksa oleh keadaan. Keadaan yang menuntutnya dan lingkungan yang mengajarinya.

Ini detail yang saya rasa sangat luar biasa. Bayangkan bagaimana pesantren dalam hal ini mendesain keadaan agar lingkungan di dalamnya tidak membiarkan santri santai menunggu sampai ’siap dewasa’. Tapi ia menempatkan santri dalam kondisi yang membuat kedewasaan menjadi kebutuhan, bukan pilihan yang bisa ditunda-tunda.

Produk Ori Nih, Bos

Ada satu hal yang jarang disadari: pesantren adalah salah satu institusi pendidikan genuine/ori yang lahir dari dalam peradaban Nusantara dan tradisi Islam — bukan transplantasi model luar.

Bahkan ketika penjajah Belanda membangun sekolah-sekolah formal dengan sistem Barat di tanah ini, pesantren sudah berdiri dan berjalan. Ia tidak menunggu dianggap legal dulu oleh negara. Ia hidup karena masyarakat membutuhkan dan mempercayainya.

Malahan pola pendidikan formal itulah yang tidak original Nusantara. Bahkan merupakan warisan feodal penjajah yang ratusan tahun menginjak-injak harkat dan martabat nenek moyang kita. Itulah mengapa saya katakan di pesantren itu diajarkan kebebasan. Bebas dari penjajah, bebas dari selain Allah.

Ini penting secara epistemologis — artinya, pesantren tidak lahir dari teori lalu dipraktikkan. Ia lahir dari kebutuhan nyata masyarakat Muslim untuk mendidik generasi yang tidak hanya bisa membaca dan berhitung, tapi yang tahu cara hidup secara bermartabat sebagai seorang Muslim.

Dan selama berabad-abad, tanpa kurikulum tertulis yang rumit, tanpa lembaga akreditasi, tanpa gelar doktor pendidikan — pesantren berhasil melahirkan ulama, pemimpin, petani yang saleh, pedagang yang jujur, dan tokoh-tokoh yang membangun negeri ini.

Lalu Mengapa Pesantren Sering Dianggap 'Pilihan Kedua'?

Ini pertanyaan yang perlu kita hadapi jujur.

Sebagian karena narasi yang telanjur terbentuk: bahwa kesuksesan diukur dari pekerjaan formal bergaji tinggi, dan untuk itu perlu ijazah dari sekolah negeri atau universitas ternama. Pesantren dianggap tidak memberi 'tiket' itu. (Materialisme)

Sebagian lagi karena ada pesantren yang memang tidak merawat kualitasnya — dan ini harus diakui, bukan ditutup-tutupi. Tidak semua pesantren otomatis baik hanya karena berlabel pesantren.

Tapi kesalahan terbesar adalah ketika kita mengukur pesantren dengan alat ukur yang bukan miliknya. Sama seperti mengukur keberhasilan seorang dokter dengan indikator seniman. Kalau keberhasilan pendidikan kita ukur hanya dari nilai akademik dan prospek kerja, maka pesantren akan selalu tampak 'kurang'. Bukan karena ia gagal, tapi karena ia bermain di lapangan yang berbeda — lapangan yang sebenarnya lebih luas.

Catatan untuk Para Orang Tua

Saya tidak sedang bilang bahwa setiap anak harus masuk pesantren. Setiap keluarga punya konteks dan pertimbangan masing-masing, dan saya tidak dalam posisi menghakimi pilihan itu.

Tapi saya ingin mengajak untuk satu hal: ubah cara kita melihat pesantren.

Pesantren bukan pelarian terakhir ketika anak 'susah diatur'. Bukan tempat buangan. Bukan sekolah agama biasa dengan tambahan hafalan.

Pesantren adalah salah satu model pendidikan paling holistik yang pernah ada — yang memandang manusia bukan sebagai mesin yang perlu diisi pengetahuan, tapi sebagai makhluk yang punya akal, hati, dan ruh, yang semuanya perlu diasah secara bersamaan.

Dan model ini bukan barang baru. Ia sudah teruji jauh sebelum ada yang memikirkan tentang holistic education, character building, atau social-emotional learning.

Kalau ada yang bisa kita pelajari dari pesantren — terlepas dari apakah anak kita ada di sana atau tidak — mungkin ini: pendidikan yang baik bukan yang paling sibuk mengajarkan materi, tapi yang paling serius membentuk manusia.

Dan untuk itu, pesantren sudah lama punya jawabannya.

M

Ditulis oleh

M Salman Azhar